MEMORI BANDING DALAM HUKUM ACARA PERDATA. Suatu Kajian Singkat

Oleh:

Rocky Marbun

Pada hakikatnya, memori banding merupakan suatu dokumen administrasi peradilan pada tingkat pengadilan tingkat banding sebagai pelengkap dari bundel administrasi peradilan tingkat pertama yang akan dikirimkan. Uniknya, tidak ada satupun teks otoritatif (pasal) yang memberikan pendefinisian, pengaturannya, maupun bagaimana proses pembuatannya, bahkan termasuk alasan-alasan hukum yang harus dimuat dalam sebuah memori banding. Maka, pembuatan dan penyerahan suatu memori banding tersebut bukanlah merupakan kewajiban yuridis bagi pihak yang merasa haknya dirugikan oleh putusan pada pengadilan tingkat pertama.

Guna melacak eksistensi dari Memori Banding tersebut, maka tidaklah mungkin kita melepaskan diri dari penelusuran dokumen hukum terhadap pengadilan tingkat banding, yang merupakan kompetensi Pengadilan Tinggi. Secara yuridis, pengadilan tingkat banding diatur dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 1947 tentang Pengadilan Peradilan Ulangan di Jawa dan Madura (UU No. 20/1947).

Berdasarkan Pasal 6 UU No. 20/1947 menegaskan “Dari putusan-putusan Pengadilan Negeri di Jawa dan Madura tentang perkara perdata, yang tidak ternyata bahwa besarnya harga gugat ialah seratus rupiah atau kurang, oleh salah satu dari pihak-pihak (partijen) yang berkepentingan dapat diminta, supaya pemeriksaan perkara diulangi oleh Pengadilan Tinggi yang berkuasa dalam daerah hukum masing-masing.” Demikian juga ditergaskan dalam Yurisprudensi MA No. 194 K/Sip/ 1975, bahwa Pengadilan Tinggi harus memeriksa ulang seluruh perkara dalam tingkat banding, termasuk meliputi seluruh bagian konpensi dan rekonpensi yang telah diputus oleh Pengadilan Tingkat Pertama.

Bahkan, jika kita mengacu kepada Pasal 15 ayat (1) UU No. 20/1947, dalam proses pengadilan tingkat banding tersebut—jika dipandang perlu, dapat memeriksa kembali keseluruhan saksi-saksi dengan mendengar langsung keterangan mereka. Keistimewaan dari pengadilan tingkat banding ini adalah diperbolehkannya mengajukan alat bukti baru untuk diperiksa pada Pengadilan Ulangan atau Pengadilan Tinggi, sepanjang pihak lawan pula memperoleh turunannya (vide Pasal 11 ayat (3) UU No. 20/1947).

Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka dalam pengadilan tingkat banding tidak membutuhkan alasan-alasan hukum sebagaimana yang terdapat dalam upaya hukum kasasi dan upaya hukum luar biasa peninjauan kembali. Mengapa tidak membutuhkan alasan-alasan hukum? Oleh karena, proses pemeriksaan pada tingkat pertama diwajibkan untuk diulang keseluruhan prosesnya. Hal tersebutlah, mengapa Memori Banding bukanlah suatu kewajiban bagi pihak yang menyatakan banding terhadap putusan pengadilan tingkat pertama.

Namun demikian, diajukannya Memori Banding memiliki sisi keuntungan dalam hal praktek hukum. Dengan alasan-alasan sebagai berikut:

  1. Sebagaimana diketahui bersama, bahwa tidak ada pembatasan perkara dalam pengadilan tingkat pertama. Oleh karena, asas hukumnya memang melarang hakim menolak perkara. Sehingga, setiap perkara yang masuk pasti diperiksa oleh hakim/majelis hakim. Hal tersebutlah yang kemudian tercipta fenomena penumpukan perkara, dimana hakim-hakim memegang berkas perkara yang akan ia periksa melampaui limit kemampuannya sebagai manusia, dan berakibat kepada kemampuan berpikir yuridis (penalaran hukum) dengan baik;
  2. Kewajiban memeriksa ulang keseluruhan proses pengadilan tingkat pertama, menyebabkan pekerjaan penelitian dokumen menjadi fokus utama dari hakim-hakim Pengadilan Tinggi;

Berdasarkan kedua alasan tersebut, dapatlah kita bayangkan ketika hakim Pengadilan Tinggi menerima terus menerus berkas perkara yang tanpa batas, maka berakibat kepada kemampuan diri untuk fokus kepada penelusuran dokumen tersebut. Hal ini lah yang membuat suatu Memori Banding menjadi penting.

Dalam pembuatan dan perancangan Memori Banding, seorang Lawyer akan memfokuskan kepada motivering vonis yang menjadi rasio decidendi atas suatu amar putusan. Keberatan-keberatan atas penalaran yuridis yang dilakukan oleh hakim pada pengadilan tingkat pertama pada point-point tertentu saja. Sehingga, Memori Banding tersebut akan sangat membantu hakim pada Pengadilan Tinggi untuk memeriksa proses pengadilan tingkat pertama dengan memfokuskan kepada keberatan-keberatan yang diajukan oleh pihak yang menyatakan banding tersebut.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s