HERMENEUTIK. Sebuah Metode Filsafat (E. Sumaryono)

Artikel ini, merupakan ringkasan dari buku E. Sumaryono dengan judul Hermeneutik. Sebuah Metode Filsafat. Namun penyajiannya, secara bertahap.

NOTE: Kalimat atau kata yang berwarna MERAH adalah tambahan dari Kami

PENDAHULUAN

 

  1. Pokok Bahasan Filsafat: Spekulasi dan Analisis
  • Spekulasi

Filsafat dimulai dengan rasa heran, ingin tahu, bertanya tentang apa saja dan terutama dengan spekulasi tentang jawaban atas semua pertanyaan-pertanyaan tersebut. Spekulasi, bila dipergunakan secara filosofis, berarti menentukan “subjek” atau gagasan dan merenungkannya secara mendasar. Kiranya aspek khusus inilah yang menyebabkan orang kemudian tertarik pada filsafat. Selama manusia selalu ingin tahu, dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan seperti apa, mengapa, bagaimana, dimana dan bagaimana, maka spekulasi menjadi hal yang sangat menarik, dan akan semakin menarik ketika meluas mempertanyakan alam semesta atau setidak-tidaknya mempertanyakan hakikat manusia.[1]

Dari berbagai pertanyaan yang diajukan, hanya sebagian saja yang dapat dikategorikan dalam pertanyaan filosofis, namun nampak sudah unsur imajinasi dan kreativitas. Sehingga kita dapat mengembangkan kebebasan berfikir tentang apa saja.

Perbedaan antara berfikir dalam kehidupan sehari-hari dan berfikir filosofis adalah terletak pada aspek kesungguhan dan sistematisasinya. Berfikir secara filsafat lebih memerlukan kesungguhan dan sistem. Di samping kedua aspek tersebut, dalam berfikir filosofis terdapat suatu aspek lagi yaitu “analisis”.[2]

  • Analisis

Di dalam berfilsafat, tidak cukup hanya mempertanyakan tentang alam semesta dan kemudian berspekulasi tentang jawabannya. Akan tetapi kita juga harus mempertanyakan tentang “pertanyaan-pertanyaan” itu sendiri dan jawaban-jawabannya. Dalam hal ini kita kemudian menganalisis melalui penalaran logika, semua pertanyaan yang kita ajukan dan jawaban yang kita peroleh.

Kegiatan analisis terdiri dari:

  • Mengajukan pertanyaan;
  • Menjawab;
  • Berteori;
  • Menyelediki;
  • Menguraikan dengan menggunakan data fisik; dan
  • Mempergunakan penalaran logika.

Sehingga jelas, berfilsafat tidak lain adalah berspekulasi dan melakukan analisis. Namun yang menjadi persoalan adalah bagaimana berspekulasi dan melakukan analisis secara filosofis?

  1. Perbedaan Antara Metode Sains dan Metode Filsafat

Kritik yang ditujukan kepada filsafat adalah bahwa filsafat dianggap kekurangan metode dalam pembahasannya. Ilmuan sains mengatakan filsafat hanya sekedar pelayan yang dapat menghibur akal pikiran yang malas. Ilmuwan sains mengkritik akal filsuf sebagai akal yang menyatakan sesuatu tanpa bukti, menerapkan paham mistik tanpa diikuti penjelasannya, ataupun berteori tanpa menyertakan aspek praxis.[3]  Sains menganggap dirinya memiliki batas ruang lingkup yang jelas dan mudah dicerna serta mudah dirangkai sebatas ruang lingkupnya sendiri.

Berkaitan dengan hal tersebut, E. Sumaryono mengadakan pembelaan terhadap filsafat, yang menjelaskan semua cabang ilmu pengetahuan memiliki ruang lingkup sendiri-sendiri, walaupun seringkali pada bagian tertentu saling tumpang tindih satu sama lainnya. Namun, tidak satu ilmu pengetahuan pun yang dapat mencakup semua ruang lingkup cabang-cabang ilmu pengetahuan. Secara kolektif, setiap cabang ilmu pengetahuan dapat menggarisbawahi penemuannya sendiri beserta bukti-bukti yang siap untuk diverifikasikan dan dikontrol. Ini disebut keniscayaan, bukan kebajikan.

Sedangkan filsafat adalah tanpa batas, karena menyelidiki realitas dalam pengertian sepenuhnya. Apapun yang disebut “ada” merupakan domain filsafat. Berdasarkan hal tersebut, kritik sains terhadap filsafat pula dikarenakan filsafat memiliki tinjauan yang sangat luas, maka hakikat filsafat adalah berspekulasi dan berteori. Jadi, filsafat tidak selalu dapat menyajikan bukti-bukti ilmiah sebagaimana disajikan oleh sains, bahkan mungkin filsafat tidak memiliki bukti-bukti tersebut. Sedangkan sains memiliki metodenya sendiri. Bukti-bukti ilmiah diperoleh melalui statistik, penjumlahan, demonstrasi, uji coba, eksperimentasi, analisis, pembenaran dan pembuktian. Metode sains sifatnya kaku dan ketat. Oleh karena itu, ilmu pengetahuan yang tidak dapat menggunakan metode tersebut dianggap tidak ilmiah. Terhadap metode tersebut, E. Sumaryono menjelaskan bahwa metode sains juga dapat menjerat. Metode sains dapat membatasi atau memagari sebuah disiplin ilmu dan mencegah bahkan menghambat gagasan-gagasan ilmiah yang mengarah kepada spekulasi. Meskipun metode sains bersifat membatasi dan memaksa, namun metode sains ini juga penting untuk kita akui dan terima karena aspek disiplin dan universalnya[4]

  1. Rintisan Perumusan Metode Filsafat

Sepanjang sejarah, para filsuf telah berusaha menyusun sebuah metode untuk mendapatkan pengakuan universal, ataupun untuk mempertahankan kelayakan filsafat sebagai sebuah disiplin ilmu. Beberapa filsuf mencoba untuk merumuskan metode filsafat tersebut, antara lain:

  1. Plato (427-347SM) membahas filsafat dengan metode dialektik yaitu dua orang yang berdialog saling melemparkan pertanyaan dan memberikan jawaban masing-masing secara bergantian. Kebenaran yang diperoleh atas dasar metode dialektik bertanya dan menjawab ini, secara berangsur-angsur mengurangi keraguan ataupun ketidakjelasan atas sesuatu hal. Metode dialog ini merupakan istilah khusus yang dipergunakan untuk metode “rujuk kembali” dari dua pihak yang bersengketa;
  2. Aristoteles (384-322SM) dikenal dengan metode silogisme atau logikanya. Dengan menggabungkan pembenaran dan penyangkalan diantara tiga term. Jika dua term secara terpisah membenarkan term ketiga, dapat ditarik kesimpulan bahwa kedua term tersebut saling membenarkan satu sama lain. Tetapi bila hanya satu term membenarkan term ketiga, maka term pertama dan kedua saling menyangkal satu sama lain. Metode ini menjernihkan dan membuang keraguan jalan pikiran kita atas dasar hubungan antara tiga term. Metode yang diciptakannya ini pada akhirnya membuat Aristoteles mendapat julukan “Bapak Logika”.

 

Kelemahan:

  • Metode ini hanya mampu meyakinkan kebenaran sesuatu pernyataan, tetapi tidak menyusun atau menimbulkan kebenaran baru;
  • Metode ini hanya membuktikan bahwa sesuatu itu benar, namun tidak menetapkan bahwa pernyataan itu benar;
  • Metode ini hanya berlaku untuk penyimpulan deduksi dan tidak berlaku untuk penyimpulan induksi. Sehingga hanya menerapkan hukum-hukum yang bersifat universal pada semua hal khusus, namun tidak mampu menyusun hukum universal yang ditarik dari hal yang khusus.[5]

Contoh:

Premis Mayor : Semua manusia dapat mati

Premis Minor: Socrates adalah manusia

Kesimpulan : Socrates dapat mati

Metode penalaran ini dimuat didalam bukunya yang berjudul Organon

Kritik Fancis Bacon, yang menulis buku Novum Organon, yang berpendapat Organon Arsitoteles memiliki kekurangan aturan-aturan dan prinsip-prinsip yang berguna untuk menetapkan hukum penalaran yang ilmiah.

3. Thomas Aquinas mengembangkan Metode Thomistik, yang secara rinci mengetengahkan persoalan yang harus dijawab dalam bentuk sebuah pertanyaan. Kemudian melangkah kepada pengajuan keberatan-keberatan yang nampaknya diarahkan untuk menopang jawaban-jawaban, baik yang positif dan yang negatif, dan selanjutnya sampai pada argumentasi yang secara bervariasi didahului dengan: “Saya menjawab bahwa….”. Cara ini ditujukan untuk menghapus semua keraguan dan pertentangan paham.

Kritik E. Sumaryono: Melalui metode thomistik atau skolastik, akan sangat menyenangkan sebab sesudah menelusuri keseluruhan rangkaian metodisnya ia akan mengalami kepuasan intelektual dan tidak akan mengajukan pertanyaan lebih lanjut. Tetapi justru disitulah letak kelemahan metode Thomistik. Mungkinkah ada sebuah garis finish untuk sebuah pertanyaan? Haruskah seorang filsuf menerima secara dogmatik setiap kesimpulan yang dapat ditarik atas dasar metode itu?

4. Rene Descartes (1596-1650), merasa prihatin atas kurangnya metode pada filsafat, yang kemudian menyusun metodenya sendiri yang disebut “metode ragu-ragu”, sebuah metode yang dipergunakannya untuk menghapus keseluruhan bangunan ilmu pengetahuan. Sebagai gantinya, ia menciptakan bangunan filosofis baru dimana masing-masing blok bangunan itu dicoba dan diuji hingga terbebas dari keraguan. Descartes meletakan prinsip-prinsip untuk menilai validitas berbagai tuntutan kebenaran.[6]

Kelemahan: Metode Cartesian memiliki kelemahan yang bersifat historis, sebab, dirumuskan justru pada saat ilmu pengetahuan secara pasti membeberkan pengertian tentang matahari, bumi dan alam semesta sebagai suatu keseluruhan.  Menurut E. Sumaryono, metode cartesian diperlukan untuk suatu masa tertentu saja. Oleh karenanya, metode cartesian menjadi anokronistik (ketinggalan zaman) dan bisa diterapkan pada masa sekarang.

Namun demikian, metode cartesian memberikan pengaruh munculnya beberapa metode, yaitu antara lain:

  • Metode Empirisme adalah salah satu metode yang tidak mau menerima satu kebenaran pun jika tidak didasarkan atas pengalaman dan dibuktikan dengan pancaindera. Salah satu tokoh yang menerapkan metode empirisme berdasarkan metode cartesian adalah Immanuel Kant dengan memunculkan kritik terhadap akal murni dan akal praktis;
  • Metode Analitik, metode yang menganalisis terminologi linguistik dan yang dengan cermat menyusun sebuah tabel nilai-nilai linguistik dengan maksud untuk menentukan nilai kebenaran sebuah kalimat. Kelemahan dari metode ini adalah pemikir harus memenuhi standar arti dan makna dari sebuah kata atau pernyataan, sehingga si pemikir tidak bebas untuk mencoba menemukan arti baru dan tidak pula bebas untuk mengadakan interpretasi;
  • Metode Refleksi. Metode ini pada prinsipnya merupakan metode klasik, dimana seorang filsuf memandang kehidupan dan dunia serta berinteraksi dengan kedua hal tersebut. Seorang filsuf menggunakan kesadarannya dan kesimpulan yang ia peroleh tidak selalu senada dengan filsuf-filsuf lainnya. Metode ini dimulai dengan refleksi itu sendiri. Hal ini lah yang kemudian oleh E. Sumaryono kembali dipertanyakan apakah ada filsuf yang tidak memulai dengan refleksi?
  • Metode Fenomologis. Metode ini diciptakan oleh Edmund Husserl (1895-1939) yang secara tepat menempatkan filsafat dalam jajaran ilmu-ilmu lain. Edmund Husserl menjelaskan, filsafat memerlukan sebuah metode yang mengena untuk menegaskan validitasnya dalam pergaulan hidup manusia sehari-hari.

Metode Fenomologis telah pula menjadi ujung tombak munculnya aliran eksistensialisme, dan bahkan dapat dipastikan eksistensialisme dikenal karena pengaruh metode fenomologis sebagai metodenya.

Kritik : Husserl dalam membangun metodenya menggunakan kesadaran yang akhirnya membawa di ke skeptisisme. Bagaimana kesadaran dapat menetapkan kebenaran filsafat sejajar dengan kebenaran dalam kategori ilmiah? Namun, sasaran Husserl bertolak belakang dengan yang ia inginkan, sebab Husserl menghendaki filsafat menjadi sebuah “ilmu pengetahuan yang sangat berpengaruh”. Hal tersebut tidak mungkin karena metode yang Husserl pergunakan bersifat subjektif dan kekurangan verifikasi yang universal. Metode Husserl tersebut membawa kembali sebagian dari metode empirisme dan metode ragu-ragu.[7]

  1. Adakah Metode Yang “Ideal”?

Metode bagaikan logika. Metode adalah fundamen dan dasar penalaran manusia. Akan tetapi, metode atau logika saja tidak dapat menentukan seseorang dapat disebut jenius. Bahkan ahli matematika tidak pernah bisa mengembangkan diri terlepas dari metode dasarnya yaitu penambahan, pengurangan, perkalian dan pembagian. Demikian pula ahli bahasa, tidak akan pernah lepas dan melebihi dari abjad A s/d Z, karena abjd adalah dasar dari semua bahasa. Demikian pula metode filsafat. Oleh karena itu, suatu metode tidak boleh membekukan pemikiran filosofis.

Kesulitan dalam membentuk metode filsafat, dikarenakan sebuah metode ideal harus menampilkan suatu bentuk struktur, yaitu suatu struktur yang fleksibel dan memungkinkan pengembangan lebih lanjut. Suatu metode harus konkret dan tidak boleh bertentangan dengan sesuatu yang bersifat abstrak. Metode filsafat harus objektif, namun juga tidak boleh sedemikian kaku, sebab di dalamnya harus juga tampak aspek subjektif. Metode filsafat harus dapat diterapkan secara universal seperti metode ilmiah.[8]

Hermeneutik, yang dikembangkan pertama kali oleh FDE. Schleiermacher dan kemudian dikembangkan lagi oleh Hans-Georg Gadamer, Jurgen Habermas, Paul Ricoeur, Jacques Derrida dan lain-lain, belum dapat diterima sebagai suatu metode yang bersifat universal. Namun metode hermeneutik, setidaknya mendukung pemahaman kita tentang kebenaran dan interpretasinya.

1

Apakah Hermeneutik itu?

 

  1. DEFINISI

Secara etimologis, kata “hermeneutik” berasal dari bahasa Yunani yaitu hermeneuein yang berarti “menafsirkan”. Maka kata benda hermeneia secara harfiah dapat diartikan sebagai “penafsiran” atau interpretasi.[9] Pada akhirnya, hermeneutik diartikan sebagai proses mengubah sesuatu atau situasi ketidaktahuan menjadi mengerti. Batasan umum tersebut, selalu dianggap benar, baik hermeneutik dalam pandangan klasik maupun dalam pandangan modern.

Hermeneutik dalam pandangan klasik akan mengingatkan kita pada apa yang ditulis oleh Aristoteles dalam Peri Hermeneias atau De Interpretatione, yaitu bahwa kata-kata yang kita ucapkan adalah simbol dari pengalaman mental kita, dan kata-kata yang kita tulis adalah simbol dari kata-kata yang kita ucapkan itu. Sebagaimana seseorang tidak mempunyai kesamaan bahasa tulisan dengan orang lain, maka demikian pula ia tidak mempunyai kesamaan bahasa ucapan dengan yang lain. Akan tetapi, pengalaman-pengalaman mentalnya yang disimbolkan secara langsung itu adalah sama untuk semua orang, sebagaimana juga pengalaman-pengalaman imajinasi kita untuk menggambarkan sesuatu.

Menurut Aristoteles, tidak ada satupun manusia yang mempunyai, baik bahasa tulisan maupun bahasa lisan, yang sama dengan yang lain. Bahasa sebagai sarana komunikasi antar individu dapat juga tidak berarti sejauh orang yang satu berbicara dengan yang lain dengan bahasa yang berbeda. Bahkan pengalihan arti dari bahasa satu ke bahasa yang lain juga dapat menimbulkan banyak masalah. Kesulitan itu akan muncul lebih banyak lagi jika manusia saling mengkomunikasikan gagasan-gagasan mereka dalam bahasa tertulis.[10] Kesulitan tersebut berlaku sama dengan transformasi dari ekspresi ke dalam bahasa tulisan.

Bila eksepresi oral tersebut ditulis, maka akan timbul berbagai komplikasio atau keruwetan. Jadi, dari buah pikiran ke ekspresi oral dan dari ekspresi oral ke tertulis terdapat perbedaan ekspresional yang cukup mencolok.[11] Demikian pula dengan pengalaman mental, sebuah pengalaman mental atau konsep atau gambaran (image) pada dasarnya kaya akan corak dan warna, dan mempunyai nuansa yang berkeanekarahgaman. Namun, kekayaan dan keanekaragaman tersebut tidak dapat dicakup seluruhnya oleh sebuah kata atau ekspresi (ungkapan) yang membawa makna yang definitif dan khas.[12]

Kekayaan pengalaman kita akan menjadi miskin (minim) atau kerdil bila hal itu sudah terungkap dalam ucapann ataupun tulisan. Bila kita berbicara, maka kata-kata yang kita ucapkan itu pada dasarnya lebih sempit bila dibandingkan dengan buah pikiran atau pengalaman kita. Bila kita menuliskannya, maka kata-kata yang tertulis itu juga menjadi lebih sempit artinya.[13] Penegasan dari E. Sumaryono tersebut hendak menyampaikan kepada kita dimana telah terjadi penurunan kualitas makna yang terungkap berawal dari buah pikiran dan pengalaman menuju kata-kata dan berakhir menjadi tulisan. Hal yang diungkapkan oleh E. Sumaryono tersebut mengandung makna bahwa tulisan merupakan cerminan buah pikiran dan pengalaman dalam tataran terendah dalam memberikan penjelasan dan pemahaman, sehingga membutuhkan interpretasi lebih lanjut. Dengan demikian, interpretasi gramatikal merupakan interpretasi yang tidak dapat berdiri sendiri karena akan kehilangan makna yang sesungguhnya.[14]

  1. HERMENEUTIK DAN BAHASA

Pada dasarnya hermeneutik berhubungan dengan bahasa. Kita berfikir melalui bahasa, kita berbicara dan menulis dengan bahasa. Kita mengerti dan membuat interpretasi dengan bahasa. Tentu saja, nunansa-nuansa bahasa ini bukanlah merupakan sesuatu hal yang baru, namun untuk pertama kalinya bahsa menjadi pusat pembicaraan filosofis.

Hans-Georg Gadamer menulis sebagai berikut:

Bahasa merupakan modus operandi dari cara kita berada di dunia dan merupakan wujud yang seakan-akan merangkul seluruh konstitusi tentang dunia ini.”

Sumaryono menyimpulkan ungkapan Gadamer tersebut dengan menjelaskan dimana Gadamer telah menyederhanakan status manusia di dunia ini sebagai bagian yang seakan tidak terbedakan dari dunia itu sendiri. Lebih lanjut, E. Sumaryono menjelaskan bahwa tidak mungkin berbuat apa-apa di dunia tanpa menggunakan bahasa. Karena bahasalah maka setiap orang menemukan dirinya sendiri di dalam dunia yang berubah terus menerus.

Menurut Gadamer, bahasa tidak boleh kita pikirkan sebagai yang mengalami perubahan. Bahasa harus kita pikirkan atau kita pahami sebagai sesuatu yang memiliki ketertujuan (teleologi) di dalam dirinya.[15] Bahwa kata-kata atau ungkapan secara aksidental tidak pernah memiliki kebakuan, dikarenakan, menurut Wilhelm Dilthey, kata atau ungkapan memiliki tujuan (telos) dan maksud sendiri. Setiap kata tidak pernah tidak bermakna, walaupun diketahui arti kata-kata bersifat konvensional atau perumusannya tidak mempunyai dasar logika. Namun, kata-kata itu tidak pernah dibentuk secara aksidental saja (asal-asalan).

Apakah yang dimaksud dengan telos tersebut? Setiap orang yang memakai bahasa ibu pada hakikatnya mampu menangkap arti atau makna dari kata-kata dengan baik dan tepat walaupun baru pertama kali mendengar. Hal tersebut tentunya berbeda dengan orang lain yang mencoba untuk menggunakan atau berusaha untuk dapat berbicara dengan bahasa yang sama itu. Atas dasar ini lah, Gadamer menyatakan bahwa “mengerti” berarti mengerti melalui bahasa. Oleh karena itu, hermeneutik adalah cara baru untuk “bergaul” dengan bahasa. Sehingga, jika mengerti selalu dikaitkan dengan bahasa, maka bahasa juga membatasi dirinya sendiri, dikarenakan terikat oleh aturan tata bahasanya yang berlaku. Dengan demikian, kita harus menyesuaikan diri terhadap kupasan-kupasan linguistik dan kecil kemungkinan untuk melakukan pembaharuan.[16]

Bila kita mampu memahami sesuatu bahasa, kita memahami segala sesuatu. Dengan kata lain, memahami bahasa memungkinkan kita untuk berpartisipasi pemakaian bahasa dimasa-masa yang akan datang. Bahasa adalah perantara yang nyata bagi hubungan umat manusia. Tradisi dan kebudayaan kita, segala warisan nenek moyang kita sebagai suatu bangsa, semuanya itu terungkap di dalam bahasa, baik yang terukir pada batu prasasti maupun yang ditulis pada daun lontar.[17]

  1. PENERAPAN HERMENEUTIK

Wilhelm Dilthey menjelakan geisteswissenschaften atau ilmu pengetahuan kemanusiaan atau ilmu pengetahuan tentang kehidupan (life sciences) antara lain sejarah, hukum, agama, filsafat, seni, kesusastraan dan bahkan linguistik (bahasa), memerlukan hermeneutik. Jika pengalamana manusia yang diungkapkannya dalam bentuk bahasa tampak asing bagi pembaca berikutnya, maka perlulah untuk ditafsirkan secara benar.

Teks sejarah yang ditulis dalam bahasa yang rumit yang beberapa abad tidak dipedulikan oleh pembacanya, tidak dapat dipahami dalam kurun waktu seseorang tanpa penafsiran yang benar. Istilah yang digunakan kemungkinan terdapat kesamaan, namun arti atau makna dari istilah tersebut bisa berbeda. CONTOH: (1). Perang pada zaman dulu dengan perang pada zaman sekarang pada hakikatnya adalah sama saja. Perang Troya maupun taktik Hannibal hanya dapat diapresiasikan dalam kurun waktu mereka sendiri; (2). Orang-orang NOMAD berperang karena memperebutkan sumber air. Jadi, interpretasi yang benar atas teks sejarah memerlukan hermeneutik.[18]

Interpretasi terhadap hukum selalu berhubungan dengan isinya. Setiap hukum mempunyai dua segi yaitu tersurat dan tersirat, atau bunyi hukum dan semangat hukum. Sehingga dalam menafsirkan bahasa memerlukan subtilitas intelligendi (ketepatan pemahaman) dan subtilitas explicandi (ketepatan penjabarannya), menjadi sangat penting dalam menafsirkan bahasa hukum. Hermeneutik sangat dibutuhkan dalam memahami dokumen hukum. Tanpa interpretasi hermeneutik atau penafsiran, pembaca mungkin tidak akan menangkap jiwa zaman di mana bahasa hukum tersebut dibuat.[19] Dengan demikian, penggunaan hermeneutik jelas merupakan penggunaan filsafat sebagai metode interpretasi atau penafsiran itu sendiri. Dari uraian di atas, dapatlah disimpulkan antara hermeneutik dan filsafat tidak dapat dipisahkan.

Melalui bahasa kita berkomunikasi, namun melalui bahasa pula kita bisa salah paham dan salah tafsir. Arti dan makna dapat kita peroleh tergantung dari banyak faktor, antara lain siapa yang berbicara, keadaan khusus yang berkaitan dengan waktu atau latar belakang, tempat ataupun situasi yang mewarnai suatu arti peristiwa bahasa. Contoh arti “kekeluargaan”bagi masyarakat pedesaan akan berbeda dengan masyarakat kota yang mengartikan.[20]

  1. CARA KERJA HERMENEUTIK

Pada dasarnya semua objek itu netral, objek adalah objek. Benda-benda itu tidak bermakna atas dirinya sendiri. Hanya subjeklah yang kemudian memberi arti dan makna pada objek. Subjek dan objek adalah term-term uang korelatif atau saling berhubungan diri satu sama lain, sehingga bersifat timbal balik. Tanpa subjek, tidak akan ada objek. Sebuah benda menjadi objek karena kearifan subjek yang menaruh perhatian atas benda itu. Arti atau makna diberikan kepada objek oleh subjek, sesuai dengan cara pandang subjek. Jika tidak demikian, maka objek menjadi tidak bermakna sama sekali.[21]

Husserl menyatakan bahwa objek dan makna tidak pernah terjadi secara serentak atau bersama-sama, sebab pada mulanya objek itu netral. Meskipun arti atau makna muncul sesudah objek atau objek menurunkan maknanya atas dasar situasi objek, semuanya adalah sama saja. Dari sinilah kita lihat keunggulan hermeneutik.

Semua interpretasi mencakup pemahaman. Namun pemahaman itu sangat kompleks di dalam diri manusia sehingga para pemikir ulung maupun psikolog tidak pernah mampu menetapkan kapan sebenarnya seseorang mulai mengerti.

Untuk dapat membuat interpretasi, orang lebih dahulu harus mengerti atau memahami. Namun keadaan lebih dahulu mengerti ini bukan didasarkan atas penentuan waktu, melainkan bersifat alamaiah. Sebab, menurut kenyataannya, bila seseorang mengerti, ia sebenarnya telah melakukan interpretasi, dan juga sebaliknya. Ada kesertamertaan antara mengerti dan membuat interpretasi. Keduanya bukan dua momen dalam suatu proses. Mengerti dan interpretasi menimbulkan “lingkaran hermeneutik”.[22]

Emilio Betti mengatakan bahwa tugas orang yang melakukan interpretasi adalah menjernihkan persoalan mengerti, yaitu dengan cara menyelidiki setiap detail proses interpretasi. Ia juga harus merumuskan sebuah metodologi yang akan dipergunakan untuk mengukur seberapa jauh kemungkinan masuknya pengaruh subjektivitas terhadap interpretasi objektif yang diharapkan.

Kegiatan interpretasi adalah proses yang bersifat “triadik” (mempunyai tiga segi yang saling berhubungan). Dalam proses ini terdapat pertentangan antara “pikiran yang diarahkan pada objek” dan “pikiran penafsir itu sendiri”. Orang yang melakukan interpretasi harus mengenal pesan atau kecondongan sebuah teks, lalu ia meresapi isi teks. Oleh karena itulah, dapat kita pahami  bahwa mengerti secara sungguh-sungguh hanya akan dapat berkembang bila “didasarkan atas pengetahuan yang benar”. Sesuatu arti tidak akan kita kenal jika tidak kita rekonstruksi.

Hukum Betti tentang interpretasi yang terkenal yaitu sensus non est inferendus sed efferendus (makna bukanlah diambil dari kesimpulan melainkan harus diturunkan) bersifat instruktif. Jadi, seorang penafsir tidak boleh bersikap pasif, ia harus merekonstruksi makna. Sehingga, alatnya adalah cakrawala intelektual penafsir, pengalaman masa lalu, hidupnya saat ini, latar belakang kebudayaan dan sejarah yang ia miliki.

Martin Heidegger menjelaskan dalam bukunya Sein und Zeit membahas hermeneutik terhadap Dasein yaitu istilah yang dipergunakan untuk menyebut “manusia”. Dasein selalu diketemukan dalam kepadatan atau kerangka waktu; yang lampau sebagai Befindlichkeit, sekarang sebagai Rede dan yang akan datang sebagai Verstehen (pemahaman).[23] Manusia autentik, yaitu Dasein, memiliki ciri khas dalam masa lampaunya sebagai Befindlichkeit (dalam kondisi “ditemukan”) atau ditemukan dalam kebebasannya. Dasein kemudian secara mendadak sadar akan beban karena ia dilahirkan di dunia. Kekinian Dasein atau Rede (ucapan bahasa) adalah artikulasi dari penemuan diri di masa lampau dan antisipasi masa depan. Tetapi kekinian menemukan Dasein tersembunyi dalam situasi  dan manusia hanya dapat mempertahankan auntentisitasnya dengan melakukan aktivitas dalam kerangaka waktu sekarang. Masa depan Dasein sadar bahwa masanya itu bergantung kepada dirinya sendiri, dan bukan pada nasib atau kemujuran.

Hermeneutik menegaskan bahwa manusia autentik selalu dilihat dalam konsteks ruang dan waktu dimana manusia itu sendiri menghayati atau mengalaminya. Manusia autentik hanya bisa dimenegrti atau dipahami dalam ruang dan waktu yang persis tepat dimana ia berada. Dengan kata lain, setiap individu selalu dalam keadaan tersituasikan dan hanya benar-benar dapat dipahami di dalam situasinya.

Kebalikan dari Dasein, menurut Heidegger, adalah manusia non autentik atau Das Man yang dimanipulasi oleh lingkungan atau situasinya. Manusia ini tidak mengontrol melainkan dikontrol oleh situasi. Ini juga merupakan interpretasi atas das Man yang tidak diberi bobot oleh masa lampaunya atau beban yang diakibatkan oleh kelahirannya di dunia. Kekiniannya hanya bersifat sesaat atau sementara dan tidak berhubungan dengan masa depan yang pada dasarnya tidak dapat dimanipulasikan. Masa depannya tidak bergantung daripadanya dan oleh karenanya ia tidak memerlukannya. Penggambaran mengenai das Man tersebut merupakan deskripsi dari manusia dalam konteks Paradigma Positivisme Hukum yang memandang manusia sebagai bagian dari “mesin” dengan mechanism-analistic method. Dalam mechanism-analistic method, manusia memang tidak diletakkan dalam bobot ruang dan waktu namun bergantung kepada organ pemberi perintah. Artinya, cakrawala intelektual penafsir, pengalaman masa lalu, hidupnya saat ini, latar belakang kebudayaan dan sejarah yang ia miliki harus diabaikan oleh das Man.

Dalam perspektif hermeneutik, setiap objek tampil dalam konteks ruang dan waktu yang sama, atau cakrawala ruang dan waktu. Pada kenyataannya tidak ada objek yang berada keadaan terisolir, setiap objek berada dalam ruang. Selalu ada kerangka referensi, dimensi, sesuatu batas, nyata atau semu, yang semuanya memberi ciri khusus pada objek.[24]

Kita harus kembali kepada pengalaman orisinal dari para penulis teks dengan maksud untuk menemukan “kunci” makna kata-kata atau ungkapan. Kita mengungkapkan diri kita sendiri melalui bahasa sehari-hari. Tetapi seringkali kita dapat meragukan sendiri apakah pengalaman-pengalaman mental atau pikiran yang ada di balik bahasa benar-benar sudah terungkapkan secara menyakinkan. Seperti halnya ketika Belanda dalam menyusun dan merumuskan pasal-pasal pidana dalam wetboek van strafrecht meminta bantuan dari sarjana ilmu bahasa Belanda kenamaan yaitu Prof. M. De Vries.[25] Oleh karena itu, jika seorang melakukan interpretasi terhadap pasal-pasal saat ini yang dibuat pada masa lalu, maka ia akan berhadapan dengan jangka waktu, sikap mental, dan paradigma serta kondisi pada saat pasal-pasal tersebut dirumuskan.

Meskipun hermeneutik atau interpretasi termuat dalam kesusastraan dan linguistik, hukum, sejarah, agama dan disiplin ilmu yang lainnya yang berhubungan dengan teks, namun akarnya adalah tetap filsafat.

Paul Ricoeur dan Jacques Derrida menulis hermeneutik dalam kesusastraan, padahal keduanya adalah para filsuf. Martin Heidegger dan Hans-Georg Gadamer berkecimpung dalam dunia metafisika dan seni, namun mereka juga diakui sebagai para filsuf. Friedrich Schleiermacher adalah seorang penafsir hukum, dan Wilhelm Dilthey adalah hermeneut bidang sejarah, namun keduanya juga pelopor hermeneutik filosofis.

[1] E. Sumaryono, Hermeneutik. Sebuah Metode Filsafat, Yogyakarta: Kanisius, 1999, hlm. 13.

[2] E. Sumaryono, Hermeneutik. Sebuah Metode Filsafat, Yogyakarta: Kanisius, 1999, hlm. 14.

[3] E. Sumaryono, Hermeneutik. Sebuah Metode Filsafat, Yogyakarta: Kanisius, 1999, hlm. 15.

[4] E. Sumaryono, Hermeneutik. Sebuah Metode Filsafat, Yogyakarta: Kanisius, 1999, hlm. 16.

[5] E. Sumaryono, Hermeneutik. Sebuah Metode Filsafat, Yogyakarta: Kanisius, 1999, hlm. 17.

[6] E. Sumaryono, Hermeneutik. Sebuah Metode Filsafat, Yogyakarta: Kanisius, 1999, hlm. 18.

[7] E. Sumaryono, Hermeneutik. Sebuah Metode Filsafat, Yogyakarta: Kanisius, 1999, hlm. 19.

[8] E. Sumaryono, Hermeneutik. Sebuah Metode Filsafat, Yogyakarta: Kanisius, 1999, hlm. 20.

[9] E. Sumaryono, Hermeneutik. Sebuah Metode Filsafat, Yogyakarta: Kanisius, 1999, hlm. 23.

[10] E. Sumaryono, Hermeneutik. Sebuah Metode Filsafat, Yogyakarta: Kanisius, 1999, hlm. 24.; Contoh: Pasal 117 ayat (2) KUHAP.

[11] E. Sumaryono, Hermeneutik. Sebuah Metode Filsafat, Yogyakarta: Kanisius, 1999, hlm. 25.

[12] Peralihan dari pengalaman mental ke dalam kata-kata yang diucapkan dan ditulis mempunyai kecenderungan dasar untuk menyempit. Hal tersebut dikarenakan persinggungan antara positivisme dengan bahasa.

[13] Ibid

[14] Penjelasan pribadi saya.

[15] E. Sumaryono, Hermeneutik. Sebuah Metode Filsafat, Yogyakarta: Kanisius, 1999, hlm. 26.

[16] E. Sumaryono, Hermeneutik. Sebuah Metode Filsafat, Yogyakarta: Kanisius, 1999, hlm. 27.

[17] E. Sumaryono, Hermeneutik. Sebuah Metode Filsafat, Yogyakarta: Kanisius, 1999, hlm. 28.

[18] E. Sumaryono, Hermeneutik. Sebuah Metode Filsafat, Yogyakarta: Kanisius, 1999, hlm. 29.

[19] Ibid

[20] E. Sumaryono, Hermeneutik. Sebuah Metode Filsafat, Yogyakarta: Kanisius, 1999, hlm. 30.

[21] E. Sumaryono, Hermeneutik. Sebuah Metode Filsafat, Yogyakarta: Kanisius, 1999, hlm. 30.

[22] E. Sumaryono, Hermeneutik. Sebuah Metode Filsafat, Yogyakarta: Kanisius, 1999, hlm. 31.

[23] E. Sumaryono, Hermeneutik. Sebuah Metode Filsafat, Yogyakarta: Kanisius, 1999, hlm. 32.

[24] E. Sumaryono, Hermeneutik. Sebuah Metode Filsafat, Yogyakarta: Kanisius, 1999, hlm. 33.

[25] R. Achmad S. Soema di Pradja, Pengertian Serta Sifatnya Melawan Hukum Bagi Terjadinya Tindak Pidana (Dihubungkan dengan beberapa putusan Mahkamah Agung), Bandung: Amrico, 1983, hlm. 15.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s